LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) ALAS PURWO EKOLOGI DASAR ANALISIS VEGETASI METODE NON-FLORISTIK



LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) ALAS PURWO

EKOLOGI DASAR

ANALISIS VEGETASI METODE NON-FLORISTIK


Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Ekologi Dasar
yang dibimbing oleh
Ibu Dr. Vivi Novianti, S.Si, M.Si dan Dr. Hadi Suwono, M.Si


Oleh:
Kelompok 1/ Offering A
Aushofusy Syarifa Agustin                        (150341606815)
Gissa Adela .P.W                                       (150341600860)
Lelly Luckitasari                                        (150341600339)
Mohammad Taufik Aji Fahruli                  (150341602764)
Nor Azizah                                                 (150341600287)
Ridho Sigit Wicaksono                              (150341603332)
Siti Nurhalizah                                           (150341607130)
logo um 1






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2017



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taman Nasional Alas Purwo merupakan taman nasional yang terletak di kecamatan Tegaldelimo dan kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Secara umum tipe hutan di kawasan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan hutan dataran rendah. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan ±40% dari luas total hutan yang ada. Sampai saat ini tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon. Berdasrkan tipe ekosistemnya, hutan di Taman Nasional Alas Purwo dapat dikelompokkan menjdi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau atau mangrove, hutan alam, hutan tanaman, dan padang penggembalaan.
Tumbuhan khas hutan endemik pada taman nasional ini adalah Sawo Kecik (Manilkara kauki), dan Bambu Manggong (Giganthochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah Ketepeng (Terminalia cattapa), Nyamplung (Callophylum inophylum), kebeh (Barringtonia asiatica), dan 13 jenis bambu.
Kajian komunitas tumbuhan atau vegetasi merupakan bagian kajian ekologi Tumbuhan. Secara garis besar metode analisis dalam ilmu vegetasi dapat dikelompokkan dalam dua hal yaitu metode destruktif dan metode non-destruktif. Untuk metode destruktif, dilakukan guna memahami materi organik yang dihasilkan, sedangkan untuk metode non-destruktif dibedakan menjadi dua pendekatan yaitu pendekatan floristik dan non-floristik (Syafei, 1990). Dalam mengkaji suatu vegetasi dapat dilakukan dengan mengamati penampakan luar atau gambaran umum dari keberadaan vegetasi tersebut tanpa memperhatikan jenis-jenis tumbuhan yang menyusun vegetasi. Kegiatan yang demikian ini biasa dikenal sebagai kajian fisiognomi vegetasi non-floristik. Jadi dalam hal ini pengetahuan mengenai taksonomi dari jenis-jenis tumbuhan penyusun vegetasi sangat diperlukan, tetapi penggambaran vegetasi dapat didasarkan dari bentuk hidup (life-form herba, perdu, dan pohon). Disamping itu kajian vegetasi yang memperhatikan taksonomi jenis-jenis tumbuhan sebagai komponen penyusun vegetasi adalah kajian floristic (Rohman, 2001).
Kurangnya praktik dan analisis vegetasi di alam bebas menyebabkan kurang efektifnya sebuah pembelajaran, sehingga perlu dirasa adanya pembelajaran langsung untuk analisis vegetasi menggunakan metode non floristik untuk mengetahui perawakan serta taksonomi vegetasi di Taman Nasional Alas Purwo. Dari faktor-faktor tersebutlah dirasa perlu dibuat analisis yang dituangkan dalam laporan KKLekologi analisis vegetasi metode non floristik, sekaligus sebagai bukti adanya analaisis oleh mahasiswa.

1.2 Rumusan Masalah
       1. Bagaimanakah cara analisis vegetasi menggunakan metode non-floristik?
2. Bagaimanakah pola dan kenampakan vegetasi pada Taman Nasional Alas Purwo menggunakan metode non-floristik?

1.3 Tujuan
       1. Untuk mengetahui cara analisis vegetasi menggunakan metode non-floristik
  2. Untuk mengetahui pola dan kenampakan vegetasi pada Taman Nasional Alas     Purwo menggunakan metode non-floristik

1.4 Ruang Lingkup
1.   Penelitian ini mendeskripsikan keadaan bentuk hidup (life form), profil tegakan dan gambar stratifikasi vegetasi yang terdapat di hutan Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
2.   Penelitian ini mendeskripsikan aplikasi pola vegetai yang ada di Taman Nasional Alas Purwo dalam pengajara kepada peserta didik
3. Menggunakan analisis vegetasi pada tingkat komunitas, yakni beberapa populasi dari vegetasi yang ada di Taman Nasional Alas Purwo

1.5 Definisi Oprasional
                                       1. Metode non-floristik adalah Metode pendekatan non-floristik merupakan salah satu metode analisis, vegetasi dengan mengamati penampakan luar atau gambaran umum dari vegetasi atau tumbuhan dengan tanpa memperhatikan taksonominya
2. Cara menganalisa yakni dengan melihat bentuk hidup vegetasi meliputi perawakan, tinggi, bentuk dan jenis daun, pola sebaran, jumlah vegetasi
3. Taman Nasional Alas Purwo merupakan taman nasional yang terletak di kecamatan Tegaldelimo dan kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia
4. Analisis vegetasi ini menggunakan metode non-floristik dengan kajian komunitas tumbuhan.
5. Data yang diperoleh adalah hasil pengematan sendiri yang tergambar pada transek 1 yang mana sample didapat dari 25 plot



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Metode Non-floristik
Metode non-floristiaka tealah dikembangkan oleh banyak pakar vegetasi. Seperti Du Rietz (1931), Raunkiaer (1934), dan Dansereau (1951). Yang kemudian diekspresiakan oleh Eiten (1968) dan Unesco (1973). Danserau membagi dunia tumbuhan berdasarkan berbagai hal, yaitu bentuk hidup, ukuran, fungsi daun, bentuk dan ukuran daun, tekstur daun, dan penutupan. Untuk setiap karakteristika di bagi-bagi lagi dalam sifat yang kebih rinci, yang pengungkapannya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf dan gambar.
Bentuk hidup metode ini, klasifikasi bentuk vegetasi, biasanya dipergunakan dalam pembuatan peta vegetasi dengan skalakecil sampai sedang, dengan tujuan untuk menggambarkan penyebaran vegetasi berdasarkan penutupannya, dan juga masukan bagi disiplin ilmu yang lainnya (Syafei,1990).
Kajian non floristik merupakan analisis yang didasarkan pada penelaahan organisme hidup atau tumbuhan dan bukan didasarkan pada taksonominya. Dansereau (1958) membagi dunia tumbuhan berdasarkan hal, yaitu ukuran, fungsi daun, bentuk dan ukuran daun, tekstur daun dan penutupan. Untuk setiap karakteristik dibagi-bagi lagi dalam sifat yang lebih rinci, yang dinyatakan dalam bentuk simbol huruf dan gambar.
2.2 Simbol-simbol Pada Metode Non-floristik
    Simbol-simbol pada metode non-floristik meliputi seluruh bentuk hidup dari vegetasi yang diamati, simbol-simbol sebegai berikut:
a)      Bentuk Hidup
W

Pohon tinggi berkayu (Tinggi lebih dari 3 m, keliling lebih dari 30 cm)
L
Tumbuhan memanjat pada pohon
E
Epifit
H
Herba (tumbuhan tidak berkayu)
M
Bryoid (tumbuhan berbentuk batang termasuk lumut daun, lumut hati, lumut kerak, dan jamur)
S

Perdu (tumbuhan berkayu pendek)
b)     Stratifikasi
1.      Lebih dari 25 meter
2.      10-25 meter
3.      8-10 meter
4.      2-4 meter
5.      0,5-2 meter
6.      0,1-0,5 meter
7.      0,0- 0,1 meter
c)      Cover
B
Sangat jarang
P
Berkelompok
I
Diskontinu (< 60 %)
C
Kontinue (> 60 %)

d)       Fungsi daun
D

Luruh atau desidous
S

Tak berdaun
E
Selalu hijau (evergreen)
I

Selalu hijau daun (sekulenta)

e)    Bentuk dan ukuran daun
O


Tak berdaun
N

Seperti jarum atau duri
G


Graminoid, rumput
A

Medium atau kecil (2:5)
H

Lebar dan besar
V

Majemuk
q
Bertalus


f)    Tekstur daun
O


Tak berdaun
F

Sangat tipis, seperti film
E

Seperti membran
X

Sclerophyllous
K

Sukulenta


2.3 Keadaan Biologi Taman Nasional Alas Purwo
Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan, ± 40 % dari total luas hutan yang ada. Sampai saat ini telah tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon.
Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground).
Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, di antaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator).
Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis di antaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.
2.4 Keadaan Fisik Taman Nasional Alas Purwo
TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :
·       Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 ha
·       Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 ha
·       Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 ha
·       Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 ha.
Rata – rata curah hujan 1000 – 1500 mm per tahun dengan temperature 22°-31° C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan.
Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl).
Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge.




BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktik Kuliah Kerja Lapangan (KKL) matakuliah ekologi analisis vegetasi metode non-floristik dilakukan pada Hari Jumat, 24 Maret 2017. Kegiatan penelitian tersebut dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo, Bayuwangi, Jawa Timur.
3.2 Alat dan Bahan
  Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.    Alat
-       Roll meter
-       Kompas bidik
-       Gunting
-       Bendera
-       Kuadran
-       Alat tulis
-       Data pengamatan
2.    Bahan
-       Tali rafia
-       Plastik
-       Jenis tanaman yang terdapat dimasing-masing kuadran

3.3 Teknik Analisis Data
        Teknik analisis data menggunakan metode non-floristik yang didasarkan pada bentuk hidup dan pola vegetasi yang ada di lapangan. Data yang diperoleh adalaha data pada transek 1 dan diambil sampel sebanyak 25 plot. Sampel didapat keluar dari garis pantai dan masuk ke hutan dengan sudut kemiringan 200. Setiap plot memiliki interval 20 meter. Analisis data bersifat deskriptif, dengan menggambar dan mengamati bentuk hidup vegetasi.



3.4 Prosedur Kerja
Adapun langkah/ prosedur kerja yang kami lakukan pada kegiatan praktikum kali ini adalah sebagai berikut:




BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA
4.1 Data
Dari pengamatan yang sudah dilakukan pada transek 1 dan diambil sebanyak 25 plot, maka diperoleh data seperti berikut:
Plot ke-
No
Nama spesies
Rumus
Jumlah
1
1.
2.
3.
4.
Calophylum inophilum L
Panicon sp.
Canavalia sp.
Pandanus tectoris
W,4,B,E,A,G
H,7,P,G,G,E
H,7,P,G,A,E
H,6,P,E,G,E
6
13
5
12
2
1.
2.
3.
4.
Allophylus cobbe
Pandanus tectoris
Panicon sp
Cayratia trifolia
S,5,B,E,U,K
H,6,P,E,G,E
H,7,P,G,G,E
H,6,B,E,A,K
4
6
7
3
3
1.
2.
3.
Hibiscus tiliaceus
Panicon sp.
Cayratia trifolia
W,3,B,I,H,E
H,7,P,G,G,E
H,6,B,E,A,K
3
7
3
4
1.
2.
Voacanga grandifolia
Pangapea pinata
H,7,B,I,A,E
W,1,B,I,A,E
3
2
5
1.
Voacanga grandifolia
W,1,I,I,H,E

10
6

1.
Voacanga grandifolia
W,1,I,I,H,E
16
7
1.
2
Voacanga grandifolia
Piper sp. 1
W,1,B,I,H,E
L,3,P,E,A,E
2
5
8
1.
2.
Voacanga grandifolia
Piper sp. 1
W,1,B,I,H,E
L,3,P,E,A,E
3
6
9
1.
2.
3.
Piper sp. 2
Voacanga grandifolia
Piper sp. 1
L,3,P,E,A,E
W,1,B,I,H,E
L,3,P,E,A,E
35
5
2
10
1.
2.
3.
Piper sp. 3
Voacanga grandifolia
Piper sp. 1
H,6,P,I,A,E
W,1,B,I,H,E
L,3,P,E,A,E
5
19
4
11
1.
2.
3.
Drypetes Serrata
Piper sp. 3
Piper sp. 1
W,3,D,I,A,E
H,6,P,I,A,E
L,3,P,E,A,E
2
5
5
12
1.
2.
Piper sp. 2
Swietenia macrophilla

L,3,P,E,A,E
W,1,B,I,A,E
3
1
13
1.
2.
Piper sp. 2
Vitis sp
L,3,P,E,A,E
H,5,B,I,A,E
15
1
14
1.
2.
Piper sp. 2
Piper sp. 3
L,3,P,E,A,E
H,6,I,I,A,E
3
20
15
1.
2.
Syzygium littorale
Amorphophallus sp.
S,5,P,I,H,E
S,5,B,I,H,E
20
1
16
1.
Piper sp. 3
H,6,I,I,A,E
52
17
1.
2.
Piper sp. 3
Syzygium littorale
H,6,C,I,A,E
S,5,P,I,H,E
60
3
18
1.
2.
Piper sp. 3
Syzygium littorale
H,6,C,I,A,E
S,5,P,I,H,E
21
3
19
1.
2.
3.
Voacanga grandifolia
Voacangan grandifolia
Piper sp. 3
W,1,B,I,H,E
W,5,B,I,H,E
H,6,C,I,A,E
10
10
62
20
1.
2.
3.
Voacanga grandifolia
Syzygium littorale
Piper sp. 3
W,5,I,I,A,E
S,5,P,I,H,E
H,6,C,I,A,E
10
3
33
21
1.
2.
Tectona grandis
Piper sp. 3
W,1,B,I,H,K
H,6,C,I,A,E
1
63
22
1.
2.
Piper sp. 3
Syzygium littorale
H,6,P,I,A,E
S,5,P,I,H,E
10
10
23

1.
2.
3.
Piper sp. 3
Voacanga grandifolia
Mamba sp.
H,6,P,I,A,E
W,1,B,I,H,E
W,1,B,I,H,E
11
1
1
24
1.
2.
Piper sp. 3
Swietenia macrophilla
H,6,D,I,A,E
W,1,B,I,A,E
40
4
25
1.
2.
Piper sp. 1
Piper sp. 3
L,3,P,E,A,E
H,6,P,I,A,E
7
10
Keterangan:
Piper sp. 1       : Piper cuceba
Piper sp. 2       : Piper retrofractum
Piper sp. 3       : Piper adoncum

4.2 Analisis Data
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi, yang diambil adalah 25 plot pada transek 1, dan didapatka analisis seperti berikut:
Pada plot 1 ditemukan 6 spesies Calophylum inophilum L, 13 spesies Panicon sp., 5 spesies Canavalia sp., 12 spesies Pandanus tectoris
Pada plot 2 ditemukan 4 spesies Allophylus cobbe,6 spesies Pandanus tectoris, 7 spesies Panicon sp, 3 spesies Cayratia trifolia
Pada plot 3 ditemukan  3 spesies Hibiscus tiliaceus, 7 spesies Panicon sp. 3 spesies Cayratia trifolia
Pada plot 4 ditemukan 3 spesies  Voacanga grandifolia, 2 spesies Pangapea pinata
Pada plot 5 ditemukan 10 spesies  Voacanga grandifolia
Pada plot 6 ditemukan 16 spesies  Voacanga grandifolia
Pada plot 7 ditemukan 2 spesies  Voacanga grandifolia, 5 spesies Piper sp. 1.
Pada plot 8 ditemukan 3 spesies  Voacanga grandifolia, 6 spesies Piper sp. 1.
Pada plot 9 ditemukan 35 spesies Piper sp. 2, 5 spesies Voacanga grandifolia, 2 spesies Piper sp. 1
Pada plot 10 ditemukan 5 spesies Piper sp. 3, 19 spesies Voacanga grandifolia, 4 spesies Piper sp. 1
Pada plot 11 ditemukan 2 spesies Drypetes Serrata, 5 spesies Piper sp. 3, 5 spesies Piper sp. 1
Pada plot 12 ditemukan 3 spesies Piper sp. 2 dan 1 spesies Swietenia macrophilla
Pada plot 13 ditemukan 15 spesies Piper sp. 2, 1 spesies Vitis sp
Pada plot 14 ditemukan 3 spesies Piper sp. 2, dan 20 spesies Piper sp. 3
Pada plot 15 ditemukan 20 spesies Sygyzium littorale, 1 spesies Amorphallus sp.
Pada plot 16 ditemukan 52 spesies Piper sp. 3
Pada plot 17 ditemukan 60 spesies Piper sp.3, 3 spesies Sygyzium littorale
Pada plot 18 ditemukan 21 spesies Piper sp.3, 3 spesies Sygyzium littorale
Pada plot 19 ditemukan 20 Voacanga grandifolia, 62 spesies Piper sp. 3
Pada plot 20 ditemukan 10 spesies Voacanga grandifolia, 3 spesies Sygyzium littorale , 33 spesies Piper sp. 3
Pada plot 21 ditemukan 1 spesies Tectona grandis, 62 spesies Piper sp. 3
Pada plot 22 ditemukan 10 spesies Sygyzium littorale , 10 spesies Piper sp. 3
Pada plot 23 ditemukan  11 spesies Piper sp. 3, 1 spesies Voacanga grandifolia , 1 spesies Mamba
Pada plot 24 ditemukan 40 spesies Piper sp. 3, 4 spesies Swietenia macrophilla
Pada plot 25 ditemukan 7 spesies Piper sp. 1, 10 spesies Piper sp.3




BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di alas purwo dengan menggunakan metode kuadran 5x5 dapat disimpulkan bahwa vegetasi tumbuhan dari tepi pantai sampai masuk ke dalam hutan didominasi oleh tumbuhan herba yang stratifikasinya dengan tinggi 0- 1 meter yakni didominasi oleh tumbuhan dari genus Piper. Hal ini tergambar pada plot ke-7 sampai dengan plot ke-25. Hal ini dapat terjadi karena memang pengkoveran tanaman tersebut sampai lebih dari 60%, yakni yang diperoleh pada plot ke-19. Hal ini juga disebabkan Piper adalah tanaman yang hidup di daerah yang tropis sejalan dengan iklim di Taman Nasioanal Alas Purwo, selanjutnya persebaran biji oleh angin dan hewan nampaknya berhasil menghasilkan tanaman Piper yang mengalami persebaran dan dapat dikatakan mendominasi dari segi luas dan jumlah, terutaa spesies Piper retrofractum.
Pengkoveran tumbuhan ini rata-rata kontinyu dan menurut analisis secara kuantitatif, tumbuhan-tumbuhan yang terdapat di alas purwo vegetasinya didominasi oleh tumbuhan yang selalu hijau dan memiliki bentuk daun dan ukuran daun medium serta tekstur yang tipis seperti film. Menurut Syafei (1990) menyatakan bahwa suatu tumbuhan dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis tertentu, dapat berupa herba, semak, pohon dan perdu tergantung dari penutupan tumbuhan yang ada pada vegetrasi tersebut. Hal ini dikarenakan karen faktor kesuburan dari Taman Nasional Alas Purwo sendiri yang mendukung adanya vegetasi yang beragam dan penutupan terbilang tingggi. Kesuburan diperoleh dari jasad organisme yang mati seperti hewan, pohon, dan serasah-serasah yang telah terdekomposisi.
Penyusun vegetasi ke dua pada alas purwo adalah tumbuhan pohon berkayu dengan stratifikasi yang tervariasi yaitu antara 10 sampai 25, 0,1-0,5m, 2-4m, 0-0,1m, 0,5-2m serta memiliki daun yang selalu menghijau sepanjang tahun dengan bentuk dan ukuran daun medium, tekstur daun tumbuhan yanng menyususn vegetasi tersebut adalah tipis seperti membrana. Pengkoveran tumbuhan berkayu pada plot-plot yang ditentukan ini sangat jarang, tidak seperti tumbuhan herba.
Menurut Rasosoedasmo (1986), dalam suatu ekosistem tiap bentuk hidup memiliki karakteristik dan kepentingan tertentu atau khusus sehingga dapat terjadi adaptasi dari suatu jenis tertentu di lingkungan tersebut. Selain karena faktor-faktor lingkungan vegetasi yang ada dipengaruhi juga oleh perubahan yang secara tidak menyeluruh oleh manusia, hewan, bahkan bencana alam. Selain itu Eurusie (1990) menyatakan bahwa pembentukan suatu tempat dari tumbuhan juga dipengaruhi oleh angin pada daerah tersebut yang mampu membentuk tumbuhan dengan bermacam-macam bentuk, seperti herba, semak, pohon, perdu, dll. Angin sangat berperan dalam proses reproduksi tumbuhan yaitu sebagai alat penyerbukan atau fektor. Selain itu angin juga membantu pemencaran biji. Pemencaran biji ini juga dibantu oleh hewan-hewan lain misalnya burung. Faktor tersebut juga menjadi alasan mengapa terdapat tumbuhan jambu Sygyzium littorale, yang mana itu dalah makanan dari beberapa hewan. Namun, perlu diketahui Sygyzium littorale yang terdpat pada Taman Nasional Alas Purwo memiliki karakteristik unik yakni batang terus tumbuh keatas seakan-akan tidak memiliki percabangan, hal ini dikarenakan tumbuhan tersebut mencari sumber cahaya matahari di tengah-tengah pepohonan yang tinggi, namun perlu diketahui Sygyzium littorale tetap memiliki percabangan monopodial.
Vegetasi yang kami analisis secara kuantitatif tumbuhan tersebut daun yang seslalu hijau dan berukuran medium, dalam Syafei (1990) bahwa variasi lingkungan akan membantu suatu gambaran dalam suatu ekosistem tumbuhan, misalnya stratifikasi suatu tumbuhan akan memberikan perbedaan radiasi dalam penerimaan suatu faktor lingkungan seperti suhu, permukaan tanah akan berbeda dengan suhu di udara. Dengan adanya perbedaan ini maka Syafei (1990) mengemuikakan bahwa adanya hukum toleransi sherfold yang menyatakan bahwa setiap faktor lingkungan mempunyai kondisi minimum dan maksismum yang mampu mempengaruhi keadaan tumbuhan.
Dari data ynag diperoleh terdapat perbedaan-perbedaan tumbuhan. Ada yang berupa herba, ada juga yang berupa pohon. Menurut Winarno (1997) menyatakan bahwa faktor lingkungan seperti udara, kelembaban dan juga makhluk hidup saling memiliki ketergantungan dalam sebuah ekosistem sehingga tidak ada yang dapat mengubahnya. Jadi kesemua bentuk dalam vegetasi itu akan saling melakukan interaksi. Sedangkan bentukan profil yang berbeda tersebut merupakan kenampakan dari bagaimana lingkungan beserta semua yang ada di sana dapat hidup pada liunmgkungan tersebut yang semua keadaannya tidak dapat lepas dari faktor lingkunga yang mempengaruhinya dalam keadaan atau kondisi maksimum dan minimum.
Pada plot ke-19 juga ditemukan jenis tumbuhan yang sama, namun berbeda perawakanya, yaitu Voacanga grandifolia. Voacanga grandifolia pertama memiliki tinggi 25 meter lebih, sedangkan Voacanga grandifolia yang kedua memiliki tinggi hanya 2 meter saja, hal tersebut dikarenakan faktor laju pertumbuhan dan mungkin juga termasuk faktor kompetisi di dalamnya.
Pada praktikum kali ini yaitu Kuliah Kerja Lapangan matakuliah ekologi di Taman Nasional Alas Purwo didapatkan hasil dan pembahasan demikian. Human error mungkin dapat terjadi dalam pengukuran, terutama pada stratifikasi tumbuhan, namun sebagai praktikan kami telah mengestimasi dengan seakurat dan sevalid mungkin.





BAB V1
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Pada praktikum ini digunakan metode non-floristik dengan cara analisis yang didasarkan pada penelaahan organisme hidup atau tumbuhan dan bukan didasarkan pada taksonominya. Dansereau. Yang mana didasarkan pada bentuk hidup, stratifikasi, pengkoveran, bentuk dan tekstur daun.
2.      Pada pengamatan ini didapatkan hasil pada transek 1 yang mana terdapat 25 plot titik sampling didapatkan vegetasi yang mendominasi adalah dari genus Piper. Pada keseluruhan plot didapatkan rata-rata berpola persebaran diskontinyus
Saran
1.      Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dpat menyempurnakan pengamatan dan laporan ini lebih baik lagi, dengan lebih meminimalkan human error.
2.      Bagi tenaga pendidik, diharapkan senantiasa memberikan pengarahan, penguatan serta konfirmasi berkenaan dengan materi dan pemahaman mahasiswa terkait pengamatan yang akan dilakukan
3.      Bagi pengamat pendidikan, pengamatan dan laporan ini dapat dijadikan rujukan bagi dunia pendidikan sehingga dapat menginspirasi peserta didik juga pengajar dalam mengembangkan ilmu terutama di bidang biologi maupun botani.



Daftar Pustaka
Dephut. 2011. Taman Nasionla Alas Purwo. (Online). (http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/5353), diakses pada 20 April 2017.

Eurusi, J, Yanen. 1990. Pengantar ekologi tumbuhan . tropika. Bandung: ITB.
Kurniawan, dkk. 2008. Vegetasi. (Online). (http://www.scribd.com/word/access_denied/13662698, diakses pada 20 April 2017)

Rohman, Fatchur. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang :
  FMIPA UM.
Rasosoedarmo, R. Soedarman. 1986. Pengantar ekologi. Cv remaja karya ‘ Bandung
Solihin, Lukman. 2011. Taman Nasional Alas Purwo. (Online) (http://wisatamelayu.com/id/object/845/taman-nasional-alas-purwo/?nav=cat, diakses pada 20 April 2017
Syafei, E. Surasana. 1990. Pengantar ekologi tumbuhan. Bandung. ITB.
Winarno R.  dkk. 1997 . lingkungan hidup aba. Malang : YAB Malang.


Komentar

  1. materi sudah cukup bagus namun penulisan diperbaiki ya, agar lebih rapi dan mudahutuk dibaca

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mark Capture Recapture

the difference between condition and resource