LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) ALAS PURWO EKOLOGI DASAR ANALISIS VEGETASI METODE NON-FLORISTIK
LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) ALAS PURWO
EKOLOGI DASAR
ANALISIS VEGETASI METODE NON-FLORISTIK
Disusun untuk memenuhi
tugas matakuliah Ekologi Dasar
yang dibimbing oleh
Ibu Dr. Vivi Novianti, S.Si,
M.Si dan Dr.
Hadi Suwono, M.Si
Oleh:
Kelompok 1/ Offering
A
Aushofusy
Syarifa Agustin (150341606815)
Gissa
Adela .P.W (150341600860)
Lelly
Luckitasari (150341600339)
Mohammad
Taufik Aji Fahruli (150341602764)
Nor
Azizah (150341600287)
Ridho
Sigit Wicaksono (150341603332)
Siti Nurhalizah (150341607130)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taman Nasional Alas Purwo merupakan
taman nasional yang terletak di kecamatan Tegaldelimo dan kecamatan Purwoharjo,
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Secara umum tipe hutan di kawasan
Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan hutan dataran rendah. Hutan bambu
merupakan formasi yang dominan ±40% dari luas total hutan yang ada. Sampai saat
ini tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba,
semak, liana, dan pohon. Berdasrkan tipe ekosistemnya, hutan di Taman Nasional
Alas Purwo dapat dikelompokkan menjdi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau
atau mangrove, hutan alam, hutan tanaman, dan padang penggembalaan.
Tumbuhan khas hutan endemik pada taman
nasional ini adalah Sawo Kecik (Manilkara
kauki), dan Bambu Manggong (Giganthochloa
manggong). Tumbuhan lainnya adalah Ketepeng (Terminalia cattapa), Nyamplung (Callophylum
inophylum), kebeh (Barringtonia
asiatica), dan 13 jenis bambu.
Kajian komunitas tumbuhan atau vegetasi merupakan bagian
kajian ekologi Tumbuhan. Secara garis
besar metode analisis dalam ilmu vegetasi dapat
dikelompokkan
dalam dua hal yaitu metode destruktif dan metode non-destruktif. Untuk metode
destruktif, dilakukan guna memahami materi organik yang dihasilkan, sedangkan untuk metode
non-destruktif dibedakan menjadi dua pendekatan yaitu pendekatan floristik dan non-floristik (Syafei,
1990). Dalam mengkaji suatu vegetasi dapat dilakukan dengan mengamati penampakan luar
atau gambaran umum dari keberadaan vegetasi tersebut tanpa memperhatikan
jenis-jenis tumbuhan yang menyusun vegetasi. Kegiatan yang demikian ini biasa dikenal sebagai
kajian fisiognomi vegetasi non-floristik. Jadi dalam hal ini pengetahuan
mengenai taksonomi dari jenis-jenis tumbuhan penyusun vegetasi sangat diperlukan,
tetapi penggambaran vegetasi dapat didasarkan dari bentuk hidup (life-form
herba, perdu, dan pohon). Disamping itu kajian
vegetasi yang memperhatikan taksonomi jenis-jenis tumbuhan sebagai komponen
penyusun vegetasi adalah kajian floristic (Rohman, 2001).
Kurangnya praktik dan analisis
vegetasi di alam bebas menyebabkan kurang efektifnya sebuah pembelajaran,
sehingga perlu dirasa adanya pembelajaran langsung untuk analisis vegetasi
menggunakan metode non floristik untuk mengetahui perawakan serta taksonomi
vegetasi di Taman Nasional Alas Purwo. Dari faktor-faktor tersebutlah dirasa
perlu dibuat analisis yang dituangkan dalam laporan KKLekologi analisis
vegetasi metode non floristik, sekaligus sebagai bukti adanya analaisis oleh
mahasiswa.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara analisis vegetasi menggunakan
metode non-floristik?
2. Bagaimanakah
pola dan kenampakan vegetasi pada Taman Nasional Alas Purwo menggunakan metode
non-floristik?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara analisis vegetasi menggunakan metode non-floristik
2. Untuk mengetahui pola dan kenampakan
vegetasi pada Taman Nasional Alas
Purwo menggunakan metode non-floristik
1.4 Ruang Lingkup
1. Penelitian
ini mendeskripsikan keadaan bentuk hidup (life form), profil tegakan dan
gambar stratifikasi vegetasi yang terdapat di hutan Taman Nasional Alas Purwo
Banyuwangi.
2. Penelitian
ini mendeskripsikan aplikasi pola vegetai yang ada di Taman Nasional Alas Purwo
dalam pengajara kepada peserta didik
3. Menggunakan
analisis vegetasi pada tingkat komunitas, yakni beberapa populasi dari vegetasi
yang ada di Taman Nasional Alas Purwo
1.5 Definisi Oprasional
1. Metode non-floristik adalah Metode pendekatan non-floristik merupakan salah satu
metode analisis, vegetasi dengan mengamati penampakan luar atau gambaran umum
dari vegetasi atau tumbuhan dengan tanpa memperhatikan taksonominya
2. Cara menganalisa yakni dengan melihat bentuk hidup
vegetasi meliputi perawakan, tinggi, bentuk dan jenis daun, pola sebaran,
jumlah vegetasi
3. Taman Nasional Alas Purwo merupakan taman nasional yang terletak di
kecamatan Tegaldelimo dan kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa
Timur, Indonesia
4. Analisis
vegetasi ini menggunakan metode non-floristik dengan kajian
komunitas tumbuhan.
5. Data yang
diperoleh adalah hasil pengematan sendiri yang tergambar pada transek 1 yang
mana sample didapat dari 25 plot
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Metode Non-floristik
Metode non-floristiaka tealah dikembangkan oleh banyak pakar vegetasi.
Seperti Du Rietz (1931), Raunkiaer (1934), dan Dansereau (1951). Yang kemudian
diekspresiakan oleh Eiten (1968) dan Unesco (1973). Danserau membagi dunia
tumbuhan berdasarkan berbagai hal, yaitu bentuk hidup, ukuran, fungsi daun,
bentuk dan ukuran daun, tekstur daun, dan penutupan. Untuk setiap
karakteristika di bagi-bagi lagi dalam sifat yang kebih rinci, yang
pengungkapannya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf dan gambar.
Bentuk hidup metode ini, klasifikasi bentuk vegetasi, biasanya dipergunakan
dalam pembuatan peta vegetasi dengan skalakecil sampai sedang, dengan tujuan
untuk menggambarkan penyebaran vegetasi berdasarkan penutupannya, dan juga
masukan bagi disiplin ilmu yang lainnya (Syafei,1990).
Kajian non floristik merupakan analisis yang didasarkan pada penelaahan organisme
hidup atau tumbuhan dan bukan didasarkan pada taksonominya. Dansereau (1958)
membagi dunia tumbuhan berdasarkan hal, yaitu ukuran, fungsi daun, bentuk dan
ukuran daun, tekstur daun dan penutupan. Untuk setiap karakteristik dibagi-bagi
lagi dalam sifat yang lebih rinci, yang dinyatakan dalam bentuk simbol huruf
dan gambar.
2.2
Simbol-simbol Pada Metode Non-floristik
Simbol-simbol pada metode
non-floristik meliputi seluruh bentuk hidup dari vegetasi yang diamati,
simbol-simbol sebegai berikut:
a)
Bentuk
Hidup
|
W
|
|
Pohon tinggi
berkayu (Tinggi lebih dari 3 m, keliling lebih dari 30 cm)
|
|
L
|
|
Tumbuhan
memanjat pada pohon
|
|
E
|
|
Epifit
|
|
H
|
|
Herba
(tumbuhan tidak berkayu)
|
|
M
|
|
Bryoid
(tumbuhan berbentuk batang termasuk lumut daun, lumut hati, lumut kerak, dan
jamur)
|
|
S
|
|
Perdu
(tumbuhan berkayu pendek)
|
b)
Stratifikasi
1. Lebih
dari 25 meter
2. 10-25
meter
3. 8-10
meter
4. 2-4
meter
5. 0,5-2
meter
6. 0,1-0,5
meter
7. 0,0-
0,1 meter
c)
Cover
|
B
|
Sangat jarang
|
|
P
|
Berkelompok
|
|
I
|
Diskontinu
(< 60 %)
|
|
C
|
Kontinue (>
60 %)
|
d)
Fungsi
daun
|
D
|
|
Luruh atau desidous
|
|
S
|
|
Tak berdaun
|
|
E
|
|
Selalu hijau (evergreen)
|
|
I
|
|
Selalu hijau daun (sekulenta)
|
e)
Bentuk
dan ukuran daun
|
O
|
|
Tak berdaun
|
|
N
|
|
Seperti jarum atau duri
|
|
G
|
|
Graminoid, rumput
|
|
A
|
|
Medium atau kecil (2:5)
|
|
H
|
|
Lebar dan besar
|
|
V
|
|
Majemuk
|
|
q
|
|
Bertalus
|
f)
Tekstur
daun
|
O
|
|
Tak berdaun
|
|
F
|
|
Sangat tipis, seperti film
|
|
E
|
|
Seperti membran
|
|
X
|
|
Sclerophyllous
|
|
K
|
|
Sukulenta
|
2.3 Keadaan Biologi Taman Nasional Alas Purwo
Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan
hutan hujan dataran rendah. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan, ±
40 % dari total luas hutan yang ada. Sampai saat ini telah tercatat
sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana,
dan pohon.
Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN
Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan
bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding
Ground).
Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas
Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves,
Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, di antaranya
yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus),
Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera
pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis),
dan Biawak (Varanus salvator).
Burung yang telah berhasil diidentifikasi
berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis di
antaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah
39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus
gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus),
Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk
reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.
2.4
Keadaan Fisik Taman Nasional Alas Purwo
TN Alas
Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :
· Zona Inti
(Sanctuary zone) seluas 17.200 ha
· Zona Rimba
(Wilderness zone) seluas 24.767 ha
· Zona
Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 ha
· Zona
Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 ha.
Rata – rata curah hujan 1000 – 1500 mm per tahun dengan temperature 22°-31°
C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat
menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah
Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah
musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan.
Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang
ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl).
Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir
dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo
umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di
bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak
terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang
Srengenge.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktik Kuliah Kerja Lapangan (KKL)
matakuliah ekologi analisis vegetasi metode non-floristik dilakukan pada Hari
Jumat, 24 Maret 2017. Kegiatan penelitian tersebut dilakukan di Taman Nasional
Alas Purwo, Bayuwangi, Jawa Timur.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan
pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.
Alat
-
Roll
meter
-
Kompas
bidik
-
Gunting
-
Bendera
-
Kuadran
-
Alat
tulis
-
Data
pengamatan
2.
Bahan
-
Tali
rafia
-
Plastik
-
Jenis
tanaman yang terdapat dimasing-masing kuadran
3.3 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan metode
non-floristik yang didasarkan pada bentuk hidup dan pola vegetasi yang ada di
lapangan. Data yang diperoleh adalaha data pada transek 1 dan diambil sampel
sebanyak 25 plot. Sampel didapat keluar dari garis pantai dan masuk ke hutan
dengan sudut kemiringan 200. Setiap plot memiliki interval 20 meter.
Analisis data bersifat deskriptif, dengan menggambar dan mengamati bentuk hidup
vegetasi.
3.4 Prosedur Kerja
Adapun
langkah/ prosedur kerja yang kami lakukan pada kegiatan praktikum kali ini
adalah sebagai berikut:

BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA
4.1 Data
Dari pengamatan yang sudah dilakukan pada transek
1 dan diambil sebanyak 25 plot, maka diperoleh data seperti berikut:
|
Plot ke-
|
No
|
Nama spesies
|
Rumus
|
Jumlah
|
|
1
|
1.
2.
3.
4.
|
Calophylum inophilum L
Panicon sp.
Canavalia sp.
Pandanus tectoris
|
W,4,B,E,A,G
H,7,P,G,G,E
H,7,P,G,A,E
H,6,P,E,G,E
|
6
13
5
12
|
|
2
|
1.
2.
3.
4.
|
Allophylus cobbe
Pandanus tectoris
Panicon sp
Cayratia trifolia
|
S,5,B,E,U,K
H,6,P,E,G,E
H,7,P,G,G,E
H,6,B,E,A,K
|
4
6
7
3
|
|
3
|
1.
2.
3.
|
Hibiscus tiliaceus
Panicon sp.
Cayratia trifolia
|
W,3,B,I,H,E
H,7,P,G,G,E
H,6,B,E,A,K
|
3
7
3
|
|
4
|
1.
2.
|
Voacanga grandifolia
Pangapea pinata
|
H,7,B,I,A,E
W,1,B,I,A,E
|
3
2
|
|
5
|
1.
|
Voacanga grandifolia
|
W,1,I,I,H,E
|
10
|
|
6
|
1.
|
Voacanga grandifolia
|
W,1,I,I,H,E
|
16
|
|
7
|
1.
2
|
Voacanga grandifolia
Piper sp. 1
|
W,1,B,I,H,E
L,3,P,E,A,E
|
2
5
|
|
8
|
1.
2.
|
Voacanga grandifolia
Piper sp. 1
|
W,1,B,I,H,E
L,3,P,E,A,E
|
3
6
|
|
9
|
1.
2.
3.
|
Piper sp. 2
Voacanga grandifolia
Piper sp. 1
|
L,3,P,E,A,E
W,1,B,I,H,E
L,3,P,E,A,E
|
35
5
2
|
|
10
|
1.
2.
3.
|
Piper sp. 3
Voacanga grandifolia
Piper sp. 1
|
H,6,P,I,A,E
W,1,B,I,H,E
L,3,P,E,A,E
|
5
19
4
|
|
11
|
1.
2.
3.
|
Drypetes Serrata
Piper sp. 3
Piper sp. 1
|
W,3,D,I,A,E
H,6,P,I,A,E
L,3,P,E,A,E
|
2
5
5
|
|
12
|
1.
2.
|
Piper sp. 2
Swietenia macrophilla
|
L,3,P,E,A,E
W,1,B,I,A,E
|
3
1
|
|
13
|
1.
2.
|
Piper sp. 2
Vitis sp
|
L,3,P,E,A,E
H,5,B,I,A,E
|
15
1
|
|
14
|
1.
2.
|
Piper sp. 2
Piper sp. 3
|
L,3,P,E,A,E
H,6,I,I,A,E
|
3
20
|
|
15
|
1.
2.
|
Syzygium
littorale
Amorphophallus
sp.
|
S,5,P,I,H,E
S,5,B,I,H,E
|
20
1
|
|
16
|
1.
|
Piper sp. 3
|
H,6,I,I,A,E
|
52
|
|
17
|
1.
2.
|
Piper sp. 3
Syzygium littorale
|
H,6,C,I,A,E
S,5,P,I,H,E
|
60
3
|
|
18
|
1.
2.
|
Piper sp. 3
Syzygium littorale
|
H,6,C,I,A,E
S,5,P,I,H,E
|
21
3
|
|
19
|
1.
2.
3.
|
Voacanga grandifolia
Voacangan grandifolia
Piper sp. 3
|
W,1,B,I,H,E
W,5,B,I,H,E
H,6,C,I,A,E
|
10
10
62
|
|
20
|
1.
2.
3.
|
Voacanga grandifolia
Syzygium littorale
Piper sp. 3
|
W,5,I,I,A,E
S,5,P,I,H,E
H,6,C,I,A,E
|
10
3
33
|
|
21
|
1.
2.
|
Tectona grandis
Piper sp. 3
|
W,1,B,I,H,K
H,6,C,I,A,E
|
1
63
|
|
22
|
1.
2.
|
Piper sp. 3
Syzygium littorale
|
H,6,P,I,A,E
S,5,P,I,H,E
|
10
10
|
|
23
|
1.
2.
3.
|
Piper sp. 3
Voacanga grandifolia
Mamba sp.
|
H,6,P,I,A,E
W,1,B,I,H,E
W,1,B,I,H,E
|
11
1
1
|
|
24
|
1.
2.
|
Piper sp. 3
Swietenia macrophilla
|
H,6,D,I,A,E
W,1,B,I,A,E
|
40
4
|
|
25
|
1.
2.
|
Piper sp. 1
Piper sp. 3
|
L,3,P,E,A,E
H,6,P,I,A,E
|
7
10
|
Keterangan:
Piper sp. 1 : Piper cuceba
Piper sp. 2 : Piper retrofractum
Piper sp. 3 : Piper adoncum
4.2 Analisis Data
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo
Banyuwangi, yang diambil adalah 25 plot pada transek 1, dan didapatka
analisis seperti berikut:
Pada plot 1 ditemukan 6 spesies Calophylum inophilum L, 13 spesies Panicon sp., 5
spesies Canavalia sp., 12 spesies Pandanus tectoris
Pada plot 2 ditemukan 4 spesies Allophylus cobbe,6 spesies Pandanus tectoris, 7 spesies Panicon sp, 3
spesies Cayratia trifolia
Pada plot 3 ditemukan 3 spesies Hibiscus tiliaceus, 7 spesies Panicon sp. 3 spesies Cayratia trifolia
Pada plot 4 ditemukan 3 spesies Voacanga grandifolia, 2 spesies Pangapea pinata
Pada plot 5 ditemukan 10 spesies Voacanga grandifolia
Pada plot 6 ditemukan 16 spesies Voacanga grandifolia
Pada plot 7 ditemukan 2 spesies
Voacanga grandifolia, 5 spesies Piper sp. 1.
Pada plot 8 ditemukan 3 spesies
Voacanga grandifolia, 6 spesies Piper sp. 1.
Pada plot 9 ditemukan 35
spesies Piper sp. 2, 5 spesies Voacanga
grandifolia, 2 spesies Piper sp. 1
Pada plot
10 ditemukan 5 spesies Piper sp. 3, 19 spesies Voacanga grandifolia, 4
spesies Piper sp. 1
Pada plot
11 ditemukan 2 spesies Drypetes Serrata, 5 spesies Piper sp. 3, 5 spesies Piper sp. 1
Pada plot 12 ditemukan 3
spesies Piper sp. 2 dan 1
spesies Swietenia macrophilla
Pada plot
13 ditemukan 15 spesies Piper sp. 2, 1
spesies Vitis sp
Pada plot
14 ditemukan 3 spesies Piper sp. 2,
dan 20 spesies Piper sp. 3
Pada plot
15 ditemukan 20 spesies Sygyzium littorale, 1
spesies Amorphallus sp.
Pada plot
16 ditemukan 52 spesies Piper sp. 3
Pada plot 17 ditemukan 60 spesies Piper sp.3, 3 spesies Sygyzium littorale
Pada plot 18 ditemukan 21 spesies Piper
sp.3, 3 spesies Sygyzium
littorale
Pada plot 19 ditemukan 20 Voacanga grandifolia, 62 spesies Piper sp. 3
Pada plot 20 ditemukan 10 spesies Voacanga grandifolia, 3 spesies Sygyzium
littorale , 33 spesies Piper sp. 3
Pada plot 21
ditemukan 1 spesies Tectona grandis, 62 spesies Piper
sp. 3
Pada plot 22 ditemukan 10 spesies Sygyzium
littorale , 10 spesies Piper sp. 3
Pada plot 23 ditemukan 11 spesies Piper
sp. 3, 1 spesies Voacanga grandifolia
, 1 spesies Mamba
Pada plot 24 ditemukan 40 spesies Piper sp. 3, 4 spesies Swietenia macrophilla
Pada plot 25 ditemukan 7 spesies Piper sp. 1, 10 spesies Piper sp.3
BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan di alas purwo dengan menggunakan metode kuadran
5x5 dapat disimpulkan bahwa vegetasi tumbuhan dari tepi pantai sampai masuk ke
dalam hutan didominasi oleh tumbuhan herba yang stratifikasinya dengan tinggi 0-
1 meter yakni didominasi oleh tumbuhan dari genus Piper. Hal ini tergambar pada plot ke-7 sampai dengan plot ke-25. Hal
ini dapat terjadi karena memang pengkoveran tanaman tersebut sampai lebih dari
60%, yakni yang diperoleh pada plot ke-19. Hal ini juga disebabkan Piper adalah tanaman yang hidup di
daerah yang tropis sejalan dengan iklim di Taman Nasioanal Alas Purwo,
selanjutnya persebaran biji oleh angin dan hewan nampaknya berhasil
menghasilkan tanaman Piper yang
mengalami persebaran dan dapat dikatakan mendominasi dari segi luas dan jumlah,
terutaa spesies Piper retrofractum.
Pengkoveran
tumbuhan ini rata-rata kontinyu dan menurut analisis secara kuantitatif,
tumbuhan-tumbuhan yang terdapat di alas purwo vegetasinya didominasi oleh
tumbuhan yang selalu hijau dan memiliki bentuk daun dan ukuran daun medium
serta tekstur yang tipis seperti film. Menurut Syafei (1990) menyatakan bahwa
suatu tumbuhan dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis tertentu, dapat berupa
herba, semak, pohon dan perdu tergantung dari penutupan tumbuhan yang ada pada
vegetrasi tersebut. Hal ini dikarenakan karen faktor kesuburan dari Taman
Nasional Alas Purwo sendiri yang mendukung adanya vegetasi yang beragam dan
penutupan terbilang tingggi. Kesuburan diperoleh dari jasad organisme yang mati
seperti hewan, pohon, dan serasah-serasah yang telah terdekomposisi.
Penyusun
vegetasi ke dua pada alas purwo adalah tumbuhan pohon berkayu dengan
stratifikasi yang tervariasi yaitu antara 10 sampai 25, 0,1-0,5m, 2-4m, 0-0,1m,
0,5-2m serta memiliki daun yang selalu menghijau sepanjang tahun dengan bentuk
dan ukuran daun medium, tekstur daun tumbuhan yanng menyususn vegetasi tersebut
adalah tipis seperti membrana. Pengkoveran tumbuhan berkayu pada plot-plot yang
ditentukan ini sangat jarang, tidak seperti tumbuhan herba.
Menurut
Rasosoedasmo (1986), dalam suatu ekosistem tiap bentuk hidup memiliki karakteristik
dan kepentingan tertentu atau khusus sehingga dapat terjadi adaptasi dari suatu
jenis tertentu di lingkungan tersebut. Selain karena faktor-faktor lingkungan
vegetasi yang ada dipengaruhi juga oleh perubahan yang secara tidak menyeluruh
oleh manusia, hewan, bahkan bencana alam. Selain itu Eurusie (1990) menyatakan
bahwa pembentukan suatu tempat dari tumbuhan juga dipengaruhi oleh angin pada
daerah tersebut yang mampu membentuk tumbuhan dengan bermacam-macam bentuk,
seperti herba, semak, pohon, perdu, dll. Angin sangat berperan dalam proses
reproduksi tumbuhan yaitu sebagai alat penyerbukan atau fektor. Selain itu
angin juga membantu pemencaran biji. Pemencaran biji ini juga dibantu oleh
hewan-hewan lain misalnya burung. Faktor tersebut juga menjadi alasan mengapa
terdapat tumbuhan jambu Sygyzium littorale, yang mana itu dalah makanan dari beberapa hewan. Namun, perlu
diketahui Sygyzium littorale yang terdpat pada Taman Nasional Alas Purwo
memiliki karakteristik unik yakni batang terus tumbuh keatas seakan-akan tidak
memiliki percabangan, hal ini dikarenakan tumbuhan tersebut mencari sumber
cahaya matahari di tengah-tengah pepohonan yang tinggi, namun perlu diketahui Sygyzium
littorale tetap memiliki percabangan monopodial.
Vegetasi yang kami analisis
secara kuantitatif tumbuhan tersebut daun yang seslalu hijau dan berukuran
medium, dalam Syafei (1990) bahwa variasi lingkungan akan membantu suatu
gambaran dalam suatu ekosistem tumbuhan, misalnya stratifikasi suatu tumbuhan
akan memberikan perbedaan radiasi dalam penerimaan suatu faktor lingkungan
seperti suhu, permukaan tanah akan berbeda dengan suhu di udara. Dengan adanya
perbedaan ini maka Syafei (1990) mengemuikakan bahwa adanya hukum toleransi
sherfold yang menyatakan bahwa setiap faktor lingkungan mempunyai kondisi
minimum dan maksismum yang mampu mempengaruhi keadaan tumbuhan.
Dari data ynag
diperoleh terdapat perbedaan-perbedaan tumbuhan. Ada yang berupa herba, ada
juga yang berupa pohon. Menurut Winarno (1997) menyatakan bahwa faktor
lingkungan seperti udara, kelembaban dan juga makhluk hidup saling memiliki
ketergantungan dalam sebuah ekosistem sehingga tidak ada yang dapat
mengubahnya. Jadi kesemua bentuk dalam vegetasi itu akan saling melakukan
interaksi. Sedangkan bentukan profil yang berbeda tersebut merupakan kenampakan
dari bagaimana lingkungan beserta semua yang ada di sana dapat hidup pada
liunmgkungan tersebut yang semua keadaannya tidak dapat lepas dari faktor
lingkunga yang mempengaruhinya dalam keadaan atau kondisi maksimum dan minimum.
Pada
plot ke-19 juga ditemukan jenis tumbuhan yang sama, namun berbeda perawakanya,
yaitu Voacanga grandifolia. Voacanga
grandifolia pertama memiliki tinggi 25 meter lebih, sedangkan Voacanga grandifolia yang kedua memiliki
tinggi hanya 2 meter saja, hal tersebut dikarenakan faktor laju pertumbuhan dan
mungkin juga termasuk faktor kompetisi di dalamnya.
Pada
praktikum kali ini yaitu Kuliah Kerja Lapangan matakuliah ekologi di Taman
Nasional Alas Purwo didapatkan hasil dan pembahasan demikian. Human error mungkin dapat terjadi dalam
pengukuran, terutama pada stratifikasi tumbuhan, namun sebagai praktikan kami
telah mengestimasi dengan seakurat dan sevalid mungkin.
BAB V1
PENUTUP
Kesimpulan
1. Pada
praktikum ini digunakan metode non-floristik dengan cara analisis yang didasarkan pada penelaahan organisme
hidup atau tumbuhan dan bukan didasarkan pada taksonominya. Dansereau. Yang
mana didasarkan pada bentuk hidup, stratifikasi, pengkoveran, bentuk dan
tekstur daun.
2. Pada pengamatan ini didapatkan hasil pada
transek 1 yang mana terdapat 25 plot titik sampling didapatkan vegetasi yang
mendominasi adalah dari genus Piper.
Pada keseluruhan plot didapatkan rata-rata berpola persebaran diskontinyus
Saran
1. Bagi
peneliti selanjutnya diharapkan dpat menyempurnakan pengamatan dan laporan ini
lebih baik lagi, dengan lebih meminimalkan human
error.
2. Bagi
tenaga pendidik, diharapkan senantiasa memberikan pengarahan, penguatan serta
konfirmasi berkenaan dengan materi dan pemahaman mahasiswa terkait pengamatan
yang akan dilakukan
3. Bagi
pengamat pendidikan, pengamatan dan laporan ini dapat dijadikan rujukan bagi
dunia pendidikan sehingga dapat menginspirasi peserta didik juga pengajar dalam
mengembangkan ilmu terutama di bidang biologi maupun botani.
Daftar
Pustaka
Dephut. 2011. Taman Nasionla Alas
Purwo. (Online). (http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/5353), diakses pada 20 April
2017.
Eurusi, J, Yanen.
1990. Pengantar ekologi tumbuhan . tropika. Bandung: ITB.
Kurniawan, dkk. 2008.
Vegetasi. (Online). (http://www.scribd.com/word/access_denied/13662698, diakses pada 20 April
2017)
Rohman,
Fatchur. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi
Tumbuhan. Malang :
FMIPA UM.
Rasosoedarmo,
R. Soedarman. 1986. Pengantar ekologi. Cv remaja karya ‘ Bandung
Solihin, Lukman. 2011. Taman Nasional Alas
Purwo. (Online) (http://wisatamelayu.com/id/object/845/taman-nasional-alas-purwo/?nav=cat, diakses pada 20 April 2017
Syafei,
E. Surasana. 1990. Pengantar ekologi tumbuhan. Bandung. ITB.
Winarno
R. dkk. 1997 . lingkungan hidup aba.
Malang : YAB Malang.
materi sudah cukup bagus namun penulisan diperbaiki ya, agar lebih rapi dan mudahutuk dibaca
BalasHapus